Minggu, 01 Agustus 2010

FALSAFAH BATIK

Batik berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “nitik”. Batik, sebagaimana namanya disebut “mbatik” juga berarti “mbabate teko sitik”. Artinya: membatik membutuhkan kesabaran luar biasa, mengingat membatik bersumber dari kata hati. Membatik juga merupakan pekerjaan yang padat karya sebab membatik membutuhkan banyak tenaga kerja, mulai dari mendesain, menggambar motif, membuka-tutup kain dengan malam, mewarnai, hingga memasarkan batik itu sendiri. Oleh karena itu, membatik seringkali diartikan pula sebagai “ngemban titik”.




Kata batik sendiri merujuk pada teknik pembuatan corak, menggunakan canting atau cap, dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna corak yang disebut malam-lilin batik (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Dalam bahasa Inggris teknik ini dikenal dengan istilah wax-resist dyeing. Jadi kain batik adalah kain yangm emiliki ragam hias atau corak yang dibuat dengan canting dan cap dengan menggunakan malam sebagai bahan perintang warna.



Definisi batik secara umum yang telah disepakati pada saat konvensi batik Internasional di Yogyakarta pada tahun 1997 adalah proses penulisan gambar atau ragam hias pada media apapun dengan menggunakan lilin batik (wax) sebagai alat perintang warna. Bilamana prosesnya tanpa menggunakan lilin batik maka mbatik tidak bisa diistilahkan sebagai batik, namun dikatakan tekstil bermotif batik.



Jenis Batik Indonesia



Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi warisan budaya turun temurun, terutama di kalangan masyarakat Jawa. Batik bahkan sudah dikenal sejak jaman Mataram Kuno dan masih lestari hingga saat ini.



Jika kita bicara tentang jenis batik yang sebenarnya maka batik dapat dibagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu:



Batik Tulis (Hand-Drawn Batik), yaitu kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik menggunakan canting yang terbuat dari tembaga yang dibentuk untuk bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain. Proses pembuatan batik jenis ini biasanya memakan waktu kurang lebih 2 – 3 bulan. Untuk pengerjaan batik tulis yang halus bahkan bisa memakan waktu 3 – 6 bulan.

Batik Cap (Hand-Stamp Batik), yaitu kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan menggunakan cap (biasanya terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhankan waktu relatif singkat . Untuk sehelai kain batik cap memerlukan waktu kurang lebih 1 – 3 minggu.

Seiring dengan perkembangan teknologi, sekarang ini seringkali kita mendengar atau menjumpai apa yang disebut sebagai batik printing (kain bermotif batik). Batik ini adalah hasil teknik membatik malam dengan screen yang biasa di pakai dalam teknik sablon/printing. Biasanya batik ini adalah produksi pabrikan dan diproduksi secara massal. Menurut Suliantoro Sulaiman, Ketua Paguyuban Batik Sekar Jagad Yogyakarta, batik printing tidak termasuk batik”.



Batik Indonesia memang berbeda dengan batik yang dimiliki oleh negara lain seperti Malaysia, China, Thailand, India, Sri Lanka, Iran atau pun Afrika Selatan. Batik asli Indonesia bukan produksi pabrikan (printing/kain bermotif batik). Selama ini, batik khas nasional hanya diproses secara tulis atau dikenal dengan sebutan batik tulis atau pun yang diproses dengan menggunakan cap. Selain terletak pada proses pembuatan, batik Indonesia memiliki falsafah khusus yang terwujud di dalam motif yang dibuat pada kain batik.



Motif and Falsafah Batik Indonesia



Motif-motif batik Indonesia yang sudah ada sejak turun-temurun masing-masing memiliki makna dan peruntukan tersendiri. Beberapa motif dari Batik Tulis yang sering kita jumpai misalnya:



1. Motif Parang



Motif parang adalah motif diagnonal bersudut 45รข°. Diantara dua deret parang diisi dengan motif mlinjon. Mlinjon berasal dari kata melinjo (biji pohon Eso/Gnetum gnemon) yang merupakan bahan mentah emping.



Parang berasal dari kata pereng atau tebing/lereng dan juga berarti senjata. Menurut sejarah, motif parang tercipta ketika Raja Mataram berkelana dan menemukan tebing untuk bertapa. Dulu kain bermotif parang hanya boleh digunakan untuk kerabat keraton.



2. Motif Wahyu Tumurun



Motif Wahyu Tumurun melukiskan anugerah (wahyu) Tuhan YME. Kain bermotif wahyu tumurun dipakai untuk upacara tradisional Jawa: Mitoni (7 bulanan), siraman (pembersihan badan pengantin sebelum pernikahan), dan akad nikah



3. Motif Berawalan Sida



Motif sida asih mengandung harapan untuk mendapatkan kasih sayang dari sesama. Kain bermotif sida asih biasanya dipakai untuk upacara tradisional Jawa: Mitoni (7 bulanan), kelahiran, akad nikah, dan kematian.



Sida Mulya bermakna kemakmuran dan melindungi tanah air, bumi yang dipijak



4. Motif Garuda



Garuda adalah burung yang melambangkan kesaktian. Motif ini merupakan salah satu motif klasik yang memiliki banyak nama khusus, salah satunya Semen Rama yang mengandung Hasta Brata (delapan ajaran dalam agama Hindu). Kain bermotif garuda biasanya dipakai untuk menghadiri upacara pernikahan.



5. Motif Ceplok



Ceplok adalah motif batik yang berisi bentuk-bentuk bunga, buah, daun, binatang, dan variasinya yang terletak dalam bidang-bidang geometris (segi empat, lingkaran, dll).



6. Motif Semen



Motif semen berasal dari kata semi, yang berarti tumbuh atau bersemi dari dalam tanah, dan tanah merupakan bagian dari gunung. Dalam Hasta Brata gunung tertinggi adalah Mahameru yang melambangkan keadilan. Contoh motif semen adalah Adi Luhung.



7. Motif Truntum - Kawung



Motif truntum yang diciptakan oleh permaisuri Sunan Paku Buwana III (kanjeng Ratu Kencana) bermakna cinta yang tumbuh kembali. Kain bermotif truntum biasa dipakai dalam upacara pernikahan.



Motif kawung berasal dari bentuk buah kawung (buah pohon aren atau kolang-kaling). Pendapat yang lain menyebutkan bahwa kawung berasal dari binatang kwangwung (binatang pemakan ujung kelapa); selain itu ada pula anggapan bahwa kawung adalah bunga teratai yang melambangkan umur panjang dan kesucian.



8. Motif Pringgondani



Pringgondani adalah sebuah nama kerajaan tempat asal Gatotkaca (putra Bima-saudara tengah keluarga Pandawa dalam cerita Wayang Kulit Purwa). Motif Pringgondani termasuk kelompok pola Semen dan pola non geometris.



Motif Pringgondani biasanya ditampilkan dalam warna-warna gelap seperti biru indigo (biru nila) dan soga coklat, serta penuh sulur-sulur kecil yang diselingi dengan naga.



Selain motif-motif diatas, terdapat juga motif-motif lain yang merupakan ciri khas suatu daerah, misalnya motif Megamendung yang berasal dari Cirebon, motif bunga Teluki dari Indramayu, dan motif-motif batik Bali merupakan perkawinan motif “dalam” dan “luar”.



Dengan adanya falsafah yang terkandung dalam setiap motif batik seperti tersebut diatas, sungguh aneh jika ada bangsa lain (selain orang Indonesia) yang bisa mengaku-ngkau bahwa batik adalah milik mereka. Mengapa? Sebab budaya-budaya yang diwakili oleh motif batik merupakan budaya-budaya yang sungguh-sungguh merupakan budaya asli nenek moyang bangsa Indonesia. Singkat kata: Membuat kain bermotif batik bisa dilakukan oleh bangsa manapun di dunia, tetapi falsafah apa yang terkandung di dalam masing-masing motif batik, hanya bangsa yang menjadi asul-usul batik lah yang tahu....

Daftar Pustaka:




1) Batik Tulis Girilaya Hand-drawn Batik, Jogja Heritage Society, 2008.



2) Batik Indonesia, www.wikipedia.com



3) Batik Indonesia Beda dengan Malaysia dan China, www.kompas.com

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar